Musibah mengantarkan seseorang memahami hal ihwal dirinya

Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan tentang hal ihwalmu. (QS 47:31)

Sahabatku. Ujian dari Allah dalam kehidupan dapat berwujud (1) perintah, pembolehan dan larangan, (2) kenikmatan dan musibah dan (3) kebaikan diri dan keburukan diri. Setiap tahapan kehidupan kita akan diuji dengan ketiga jenis ujian tersebut.

Sejak Adam di Surga, ujian ini sudah diberikan oleh Allah Swt. Allah mengatakan : ”Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS 7:19)

Dari ayat diatas, sebenarnya sudah digambarkan bahwa yang dibolehkan oleh Allah Swt jauh lebih banyak daripada yang dilarang. Kalau kita hitung, sesuatu yang dilarang sesungguhnya sangat sedikit sekali jika dibanding dengan yang dibolehkan. Namun karena kita manusia tidak pernah merasa puas, jumlah yang sedikit yang dilarang pun kita langgar.

Contohnya minuman. Allah membolehkan kita minum apa saja, kecuali yang memabukkan (khamar). Namun karena kita tidak pernah merasa puas, sedikit yang dilarang oleh Allah kita langgar pula. Begitu pula dengan makanan. Allah membolehkan kita makan apa saja kecuali sedikit hal saja yang dilarang. Namun karena kita tidak pernah merasa puas, kita langgar pula yang dilarang tersebut.

Demikianlah Allah menguji kita dengan perintah, pembolehan dan larangan. Orang-orang yang berupaya mencari keridlaan Allah, akan berupaya sungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah-Nya, hanya melakukan yang dibolehkan-Nya dan menghindari diri dari yang dilarang-Nya.

Dalam kenyataan kehidupan hal ini tidak mudah. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan ujian jenis kedua (kenikmatan dan musibah).

Ada orang-orang yang ketika dimasa lapang, sangat teguh untuk melakukan hanya yang diperbolehkan, dan menghindari yang dilarang. Ia tidak mau menipu, mencuri, dan sebagainya. Namun ketika Allah izinkan hadir dalam kehidupannya musibah kehidupan, dalam masa yang sempit, seringkali yang awalnya dihindari jadi dilakukannya juga. Orang-orang yang pernah mengalami hal ini akan merasakan perjuangan yang amat sangat berat.

Sahabatku. Ada seseorang yang sangat memahami bahwa pergi ke dukun dilarang oleh Allah Swt. Namun ketika anak yang disayangi sakit, sementara dokter sudah tidak lagi sanggup mengobati, dan seluruh sanak saudaranya  menekan untuk melakukan perobatan ke seorang dukun, ini bukanlah hal yang mudah. Melihat penderitaan sang anak sangat menyedihkan, menghadapi seluruh sanak saudara membuat kondisi semakin berat. Ini sebuah perjuangan yang sangat berat. Tidak jarang dalam kondisi yang demikian, akhirnya  demi mencari kesembuhan, seseorang akhirnya pergi ke dukun.

Demikian pula seseorang yang mengharamkan mencuri atau berbohong. Namun ketika kondisi ekonominya sangat sulit, anak-anaknya menangis karena tidak bisa makan, sementara tidak ada orang bisa membantunya, akhirnya dengan terpaksa ia mencuri atau berbohong.

Banyak lagi contoh yang lainnya.

Sahabatku, ketahuilah bahwa Allah akan menguji kita dengan situasi dan kondisi yang demikian, sehingga terujilah siapa yang sungguh-sungguh berjihad dan bersabar. Orang-orang yang teguh imannya, akan berupaya tetap memilih jalan yang benar dan bersabar dalam menghadapi persoalan-persoalannya. Walaupun hati dan kepala terasa akan meledak, menghadapi persoalan yang dihadapinya.

Cobaan jenis ketiga, adalah cobaan yang datang dari dalam dirinya sendiri. Kebaikan-kebaikan dirinya serta keburukan-keburukan dirinya.

Sahabatku, setiap orang lahir ke dunia ini dengan membawa keburukan dan kebaikan dirinya. Satu dengan lainnya berbeda jenis keburukan dan kebaikannya. Ada orang yang lahir rajin, pekerja keras, dan dermawan, namun ia sombong dan pendengki. Ada seseorang yang lahir pemalas dan pelit, namun ia rendah hati dan pemaaf. Berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa ini merupakan ujian dari Allah. Ada yang berbangga-bangga dengan sifat-sifat baiknya, sehingga kebaikan yang dilakukannya menjadi tidak ikhlas. Ada yang tertipu dengan sifat-sifat baiknya, dan lebih gemar mengurusi sifat buruk orang lain daripada mengurusi sifat buruknya sendiri. Sehingga akhirnya menyebabkan ia tidak menyadari bahwa ia memiliki segunung sifat buruk yang harus diurusi dan diperbaiki.

Sahabatku. Jika kita berusaha menghadapi ujian-ujian Allah di atas dengan berusaha (jihad)  benar dan sebaik-baiknya, serta bersabar atasnya maka ketahuilah bahwa sedikit demi sedikit Allah akan membersihkan segala dosa yang menutupi hati kita. Ibarat sebuah cermin yang sudah tertutup debu tebal, sedikit demi sedikit terbersihkan dengan mengkilap kembali. Allah juga merubah keburukan-keburukan diri kita dengan kebaikan. Ibarat sebuah besi yang sebelumnya tidak berbentuk apa-apa, sedikit demi sedikit tertempa menjadi sebuah perkakas yang bermanfaat.

Maka ketika hati kita kembali suci bersih, jiwa kita terbentuk sesuai dengan keinginan-Nya, maka akan menjadi jelaslah hal ihwal diri kita. Menjadi kenalah seseorang tentang diri sejatinya, yang dengan mengenalnya akan mengantarkan dirinya mengenal Allah. Sebagaimana sebuah kata-kata yang masyhur yang dikutip oleh Imam al Ghazali atau Jalaluddin Rumi: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya“.

Salam Ikhlas!

This entry was posted in Kajian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s